Sahabat, pernah nggak sih ngerasa udah bikin CV rapi, LinkedIn juga udah diisi lengkap, tapi kok tetap sepi panggilan interview? Nah, salah satu kemungkinan besarnya bukan karena CV kamu jelek, tapi karena CV kamu nggak “kebaca”, gak “kedetect” sama sistem AI yang sekarang dipakai hampir semua HR buat nyaring kandidat duluan sebelum manusia sempat lihat.
Ini yang saya sebut AI-Readability, yaitu seberapa gampang informasi tentang diri kamu dipahami oleh AI, bukan cuma oleh mata manusia.
Gampangnya seperti ini, dulu, rekruter buka satu-satu CV, baca dari atas ke bawah.
Sekarang? Banyak perusahaan pakai Applicant Tracking System (ATS) atau bahkan langsung AI assistant buat filter ratusan lamaran dalam hitungan detik. Kalau CV kamu berbentuk PDF desain grafis yang cakep tapi teksnya nggak bisa “dibaca” mesin (misalnya nama posisi ditulis dalam gambar, bukan teks), ya AI itu bakal skip CV/Resume kamu. Bukan karena kamu nggak qualified, tapi karena secara teknis kamu “invisible”.
Nah, waktu saya bangun MyProfile.my, ini justru jadi fokus utama saya. Gimana caranya satu profil bisa kebaca bagus sama manusia (rekruter), tapi di saat yang sama juga “ngerti” sama AI yang scan data di baliknya. Ternyata caranya nggak ribet-ribet amat kok, cuma emang jarang orang mikirin ini.
Beberapa hal simpel yang bisa langsung kamu cek:
- Pastikan skill dan posisi kerja kamu ditulis dalam bentuk teks biasa, bukan cuma di dalam gambar atau ikon
- Gunakan struktur yang jelas: Nama, Posisi, Pengalaman, Skill jangan dibikin puitis atau terlalu kreatif formatnya
- Kalau punya portofolio online, pastikan halamannya bisa dibuka tanpa harus login atau nunggu animasi loading lama
Intinya, di 2026 ini, kita nggak cuma nulis buat orang, tapi juga buat “pembaca” yang namanya algoritma. Dan jujur aja, ini bakal makin penting ke depannya. Jadi kalau kamu lagi cari kerja atau bangun personal branding, coba deh cek lagi—profil kamu itu udah “AI-friendly” belum?
